Tampilkan postingan dengan label TIPS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TIPS. Tampilkan semua postingan

Kompos Kotoran Kambing, cocok untuk segala tanaman


KOMPOS KOTORAN KAMBING, COCOK UNTUK SEGALA TANAMAN


Pendahuluan
Limbah merupakan bahan yang timbul setelah proses produksi selesai, yang umumnya dibuang. Limbah kandang dan tanaman dapat berbentuk padar, cair maupun gas. Demikian halnya limbah yang dihasilkan dari ternak kambing/domba berupa air kencing yang menyengat akan dapat menimbulkan polusi bau, kotoran mencemari lingkungan sekitarnya dan masih banyak masalah social yang ditimbulkan.
Sebetulnya bila dimanfaatkan secara baik kotoran tersebut bukan merupakan polusi justru merupakan suatu penghasilan yang bisa menghasilkan kompos (pupuk organic) yang berkualitas bila diolah dengan teknologi pengolahan menggunakan decomposer (Biostarter) bahkan menghasilkan uang yang tidak sedikit nilainya.

Pengolahan Limbah Inthil
Petani kita umumnya menggunakan pupuk kandang secara langsung, hal ini tanpa disadari pupuk tersebut masih banyak kelemahannya. Kelemahan tersebut antara lain terdapat bibit gulma, hama dan penyakit serta diperlukan dalam jumlah yang cukup besar. Agar dihasilkan pupuk organic yang berkualitas baik dan hemat dalam pemakainya, pupuk kandang (inthil) perlu diolah atau dilakukan dekomposisi dalam kondisi tertentu yang dapat dilakukan secara biologis dengan menggunakan mikroba tertentu.
Karakteristik inthil berbentuk butiran-butiran kecil, tingkat kadar air yang rendah merupakan factor yang penting dalam hal mudah dalam pengolahan dan kualitas kompos lebih baik dibanding dengan ternak yang lain, seperti sapi maupun kerbau.

Prinsip Pembuatan Kompos
Prinsip pengomposan atau composting adalah proses merubah limbah organic menjadi pupuk organic secara biologis dibawah kondisi yang terkontrol. Tujuan pengomposan limbah ternak melalui kondisi yang terkontrol adalah untuk membuat keseimbangan porses pembusukan bahan organic dalam limbah, mengurangi bau ,membunuh  biji-biji gulma dan organisme pathogen sehingga menjadi pupuk yang sesuai dengan lahan pertanian. Apabila kondisi tidak atau kurang terkontrol akan terjadi pembusukan sehingga timbul bau yang menyengat, timbul cacing dan insekta.

Membuat Kompos Dengan Biostater
Biostater yang dapat digunakan untuk pembuatan kompos sudah banyak beredar dimasyarakat dengan bermacam-macam merk dagang dengan dosis dan bahan yang bermacam-macam namun sama dalam hal tujuan yaitu untuk mempercepat proses dekomposisi.
Kompos yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik, dosis penggunaan pada tanaman lebih hemat dibanding pupuk kandang tanpa diolah dahulu.
Kompos inthil yang dihasilkan memberikan nilai tambah pengusahaan ternak karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan tanpa pengomposan.

Bahan :
Bahan yang diperlukan dalam pembuatan limbah inthil kambing / domba, antara lain :
1. Inthil kambing / domba            : 1.000 kg
2. Bio starter stardec                  :     2,5 kg
3. Serbuk gergaji                        :    100 kg
4. Abu sisa pembakaran             :      50 kg
5. Kapur tohor / gamping            :      50 kg
6. Pupuk urea                            :     2,5 kg
7. Pupuk SP-36                         :     2,5 kg
8. Air secukupnya
*) Bahan-bahan tersebut boleh dikurangi sesuai ketersediaan didaerah tersebut. Minimal dapat digunakan bahan berupa kotoran dan stardec, namun semakin lengkap bahan yang digunakan semakin baik kualitas kompos yang dihasilkan.

Cara Pembuatan Kompos :
  1. Tiap bahan dibagi menjadi 6 – 8 bagian
  2. Kotoran inthil ditumpuk dengan ketinggian 25 – 30 cm.
  3. Ditaburkan biostarter, serbuk gergaji, abu dan kapur masing-masing 1 bagian sambil disiram air untuk kelembaban.
  4. Ulangi tumpukan kedua seperti no. 3 begitu seterusnya sehingga semua bahan habis.
  5. Tumpukan dibuat denganetinggian minimal 1,5 m.
  6. Tumpukan dibawah naungan untuk menghindari adanya sinar matahari langsung dan air hujan
  7. Untuk menjaga suhu dan suplai oksigen, tumpukan dibalik sekali tiap minggu
  8. Untuk menjaga kelembaban 60 %, saat membalik tumpukan dilakukan penyiraman dengan air menggunakan gembor
  9. Pada minggu ke 5 pupuk siap digunakan.
Pengemasan
Setelah kompos jadi maka selanjutnya bisa dipakai untuk memupuk tanaman, namun apabila dijual dikemas terlebih dahulu agar kelihatan praktis dan lebih rapi. Tiap kemasan berbeda-beda sesuai dengan permintaan pasar, biasanya bobot kompos tiap kemasan antara lain : 3 kg (plastic), 5 kg (plastic), 10 kg (karung) dan 25 kg (karung). (Bid. Peternakan)

Sumber : http://pertahanan.slemankab.go.id
Foto : http://www.indonetwork.co.id/

FERMENTASI JERAMI

Jerami adalah hasil ikutan limbah pertanian terbanyak diindonesia, namun kualitas nutrisinya relative rendah. Ternak ruminansia (Sapi, Kerbau, Kambing) mampu memanfaatkan jerami padi sebagai pakan basal. Pada musim kemarau jerami padi (kering) merupakan pakan ternak utama untuk daerah tertentu.Bahkan tidak jarang untuk mendapatkan jerami padi pada musim kemarau, petani terpaksa mencari keluar daerah atau membeli dengan harga yang relative mahal seperti di daerah Gunung kidul, Wonogiri, Purwodadi, Blora dan lain lain.

Sebagai sumber pakan, Jerami padi mempunyai beberapa kelemahan yaitu : daya kecernaannya rendah dan kandungan gizinyapun rendah.

Untuk meningkatkan nilai gizi jerami dengan cara :
  1. Pengolahan secara biologis dengan menggunakan jamur.
  2. Mengolah secara kimiawi dengan penambahan urea dan starbio, kostik soda (Naoh) dan Ca(OH)2
  3. Pemotongan secara fisik yaitu dengan memotong-motong menjadi partikel lebih kecil
  4. Perlakuan dengan suplementasi pakan penguat

II. FERMENTASI JERAMI

Fermentasi adalah pengawetan dalam bentuk lembab.Proses fermentasi merupakan proses anaerob sehingga perlu dihindarkan tindakan yang mengakibatkan masuknya udara.

Proses ini dilakukan dengan menggunakan probiotik sebagai starter.Starter yang dapat digunakan antaralain Starbio, Bioplas atau Koenzym.

Fungsi Fermentasi adalah perlakuan/pengawetan oleh senyawa asam yang dihasilkan oleh mikroba dan dilakukan diluar tubuh ternak.makin kuat tingkatan asamnya makin tinggi kenaikan kualitas jerami padi, namun kenaikannya sekitar 10 – 15% saja.Sehingga factor ekonomi perlu dipertimbangkan.

Indikator berhasil atau tidaknya fermentasi adalah jerami fermentasi tidak berbau ammonia( pesing) tetapi menghasilkan bau harum caramel.

Peranan Probiotik adalah untuk memecahkan selulosa menjadi nutrisi yang mudah diserap oleh tubu8h ternak.

III. SYARAT, BAHAN DAN CARA PEMBUATAN

1. Persyaratan
  • Kadar jerami padi 40 – 45 %
  • Terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung.
2. Bahan
  • Jerami kering/jerami segar
  • Stater
  • Air

3. Cara Pembuatan

Untuk setiap 100 kg jerami, starter yang diperlukan sebanyak 0,5 kg dan 40 liter air.
  • Timbang jerami
  • Sediakan air
  • Timbang starter
  • Tumpuk jerami lapis demi lapis dengan ketebalan 25 cm.Ukuran tumpukan 2,5 mx2,5 m x 25 cm.
  • Setiap lapis siram dengan air hingga rata.
  • Setiap lapis ditaburi dengan starter hingga rata.
  • Banyaknya lapisan tumpukan sesuai dengan kebutuhan.
  • Setelah dianggap cukup, bagian atas ditutupi daun, daun kering atau daun pisang.
  • Biarkan selama 3 -4 minggu.
  • Bongkar dan angin-anginkan sebentar.
  • Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pengangkutan, sebaiknya hasil fermentasi ini dipadatkan (diPres) dengan alat Pres.
IV. PENYAJIAN KE TERNAK
  1. Jerami yang telah difermentasikan dengan diangin-anginkan dapat langsung diberikan ke ternak.Jumlah pemberiannya sama dengan pemberian hijauan pakan yaitu sebesar 10% dari bobot badan.
  2. Untuk ternak yang belum terbiasa dengan fermentasi, perlu dilatih yaitu dengan mempuasakannya beberapa saat.Kemudian baru diberi jerami hasil fermentasi.

V. KEUNTUNGAN JERAMI FERMENTASI

Beberapa keuntungan penggunaan jerami fermentasi sebagai pakan diantaranya adalah :
  1. Dapat mengurangi biaya pakan.
  2. Dapat meningkatkan produksi ternak karena kualitas nutrisi meningkat.
  3. Penggunaan pakan dan tenaga kerja lebih efisien.
  4. Lingkungan kandang lebih sehat dan nyaman, karena kotoran ternak yang dihasilkan lebih sedikit, kering dan tidak berbau.
Sumber :
  •  Dirjen bina produksi Peternakan
  • http://blitar.blogspot.com/

Pemuliaan Tanaman Jagung dan Pembuatan Pakan Ternak

Bertempat di salah satu rumah anggota Kelompok Tani Maju Pamongan, Desa Pamongan, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri diselenggarakan serangkaian acara pendidikan pemuliaan tanaman jagung dan pembuatan pakan ternak serta ditutup dengan Rapat Pimpinan Dewatn Tani API wilayah Jawa Timur pada tanggal 20-23 Desember 2008.

Desa Pamongan merupakan kawasan desa hutan dimana pola wana tani yang dikembangkan oleh petani dengan sistem hutan sosial. Disamping tegakan pohon, budidaya pertanian kawasan hutan ditanami tanaman pangan seperti padi darat (gogoh ranca) tanaman jagung lokal dan hibrida serta pemeliharaan hewan ternak potong besar seperti sapi jenis peranakan ongole (PO) dan kambing jawa.

Untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan tehnologi pertanian dan peternakan, API Jatim menyelenggarakan serangkaian pendidikan yang bersifat aplikatif ketrampilan berupa pengolahan limbah pertanian untuk dijadikan pakan ternak dan mengembangkan benih jagung bermutu diselenggarakan pula pendidikan pemuliaan tanaman jagung (penyilangan jagung).

Pakan Ternak Kambing
Proses pendidikan difasilitasi oleh Sugiono, seorang organizer dari Kelompok Kajian dan Pengembangan Masyarakat (KKPM 193) dan memiliki kapasitas sebagai seorang praktikan di bidang pertanian organik. Peserta pendidikan sangat antusias mendengar pemaparan dari Sugiono yang menjelaskan ruang lingkup pakan lengkap (complete feed). Menurutnya, pakan lengkap adalah ransum pakan campuran yang dibuat dari berbagai bahan pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ternak. Adapun bahan-bahan pakan tersebut yang biasa dipakai adalah; Pertama, Sumber Serat Kasar, seperti kulit kedelai (titen), tongkol jagung (jangle), pucuk tebu dan jerami padi. Kedua, Sumber energi, seperti dedak padi/katul, ampas tapioka atau gamblong, tetes tebu atau molases, dedak jagung atau empok, Ketiga Sumber Protein, seperti bungkil kopra, bungkil sawit, bungkil klenteng, kulit kopi, kulit kakao/cokelat, tepung ikan dan tepung bekicot, Keempat, Sumber Mineral, Kelima, Ure, tepung tulang, cangkang telur, Kalsium dan garam dapur.

Menurutnya, kelebihan pakan lengkap adalah susunan kandungan nutrisi pakan seimbang dan sesuai dengan kebutuhan nutrisi pada ternak, hemat tenaga kerja ( 1 orang bisa menangani 100 ekor ternak), mudah dipraktekkan karena bahan-bahan tersedia dilingkungan sekitar, waktu penggemukan relatif pendek yakni 3-4 bulan (kasus penggemukan), pertumbuhan bodon badan harian ternak mencapai 150-200 gr/hari atau 6 Kg per bulan, harga relatif murah karena bahan bisa diambil dari limbah pertanian atau peternakan, penyimpanan lebih udah dan dikemas sehingga lebih praktis.

Resep Bapak Ronto, Peternak Kambing Etawa
Lebih lanjut, sugiono menjelaskan alur proses kimiawi cara pembuatan pakan dan menjelaskan arti bakteri dalam bahasa lokal dan mengapa bakteri sangat dibutuhkan dalam proses penguaraian enzimatis pembuatan pakan. Dikarenakan terlalu teknis kimia, Sugiona memberikan pengalaman dari seorang peternak kambing di wilayah perkebunan kopi Malang selatan, bagaimana memanfaatkan limbah kopi untuk dijadikan pakan kambing.

Untuk 10 ekor kambing bahan-bahan yang diperlukan kulit kopi sebanyak 8 rantang, dedak 1 rantang, tetes tebu 0,5 liter dan air secukupnya. Disediakan pula ember untuk tempat mencampur pakan, ember kecil atau baki tempat pakan dan rantang atau mangkuk. Proses pembuatannya, larutkan 0,5 liter tetes tebu dengan air 1 ember (kira-kira 7 liter) dan masukkan dedak dan kulit kopi kedalam ember. Masukkan larutan tetes tebu yang berisi kulit kopi dan dedak, aduk sampai rata. Berikan langsung pakan yang sudah tercampur kepada kambing dengan wadah baki kecil.

Untuk resep ke-dua, bahan terdiri dari gamblong sebanyak 10-12 kg, kulit kopi 2 kg, tetes tebu 0,5 liter dan air secukupnya 5-7 liter. Cara pembuatan seperti pada resep pertama.

Untuk menambah pengetahuan peserta, juga diberikan proses pembuatan pakan dengan ramuan metode natural farming ala Dr. Choo (dari Korea Selatan).
Resep Pertama, Bahan terdiri dari Suun 5 kg, ampas singkong atau ampas tahu 1kg, nutrisi ikan 1 cc, nutrisi jahe 1cc, nutrisi temulawak 1 cc, nutrisi bawang putih 1cc, mikroba II dan air 1 liter.

Cara pembuatan : bahan-bahan diatas dicampur jadi satu, nutrisi dilarutkan dengan air 1 liter, basahi adonan tersebut hingga rata, biarkan selama 3-7 hari. Setelah jadi pakan, tambahkan suun dan rumput segar yang sudah dicacah.

Setelah peserta memahami dengan seksama dan disertai berbagi pengalaman antar petani dari berbagai 9 wilayah di Jawa Timur dilanjutkan dengan praktek. Meski diguyur hujan rintik-rintik peserta antusias membuat pakan ternak dan untuk kemudian hari akan dilanjutkan dan diterapkan ditempat organisasinya masing-masing (dhink/API-link)
 
Sumber :  http://api.or.id

Sistem Ternak Kambing

 
Ternak merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat.
Manfaatnya sangat banyak, antara lain:
  • Memenuhi kebutuhan pangan dan kesehatan masyarakat.
  • Menjadi bagian dari upacara tradisional.
  • Sebagai tenaga kerja, alat transportasi dan pengolahan tanah.
  • Memenuhi kesejahteraan masyarakat.
Jadikanlah ternak sebagai bagian dari usaha tani di tiap rumah tangga dengan memaksimalkan manfaatnya dan dikelola dengan cara-cara yang berkelanjutan, untuk saat ini maupun untuk masa yang akan datang. Ternak harus dipelihara dan dirawat dengan baik. Perhatikan kesehatannya karena perawatan ternak yang baik adalah obat yang paling mujarab bagi ternak. Sediakan selalu pakan ternak yang berkualitas baik, air yang cukup, serta kandang yang nyaman dan bersih. Hal-hal ini akan banyak membantu mencegah munculnya penyakit atau masalah apapun.

Merupakan suatu tradisi umum untuk menjaga bayi manusia tetap di rumah selama 40 hari setelah kelahiran untuk meningkatkan kesehatannya. Jika hal yang sama diterapkan pada hewan, menjaga mereka selama beberapa minggu setelah kelahiran, akan meningkatkan kemampuan bertahan hidup, ukuran, dan kesehatan ternak.

Jika ternak hidup sehat, gembira, dan berkembang biak dengan baik, mereka akan memberikan lebih banyak daging, telur, susu, dan anakan. Ini akan meningkatkan taraf hidup dan kesehatan tiap-tiap warga masyarakat. Semua jenis ternak penting, tapi dengan lebih memprioritaskan budidaya hewan yang lebih kecil akan memberikan lebih banyak manfaat daripada membudidayakan hewan yang lebih besar karena:
  • Hewan kecil lebih sering beranak.
  • Hewan kecil, termasuk ikan, menghasilkan lebih banyak daging meski dalam luas lahan dan pakan yang lebih sedikit dibandingkan dengan hewan yang besar.
  • Hewan kecil jauh lebih baik untuk lingkungan.
  • Lebih sedikit daging yang terbuang, yang disebabkan hewan kecil lebih bisa disembelih kapan saja sesuai kebutuhan dibanding dengan hewan besar.
  • Unggas bisa memberikan telur.
Modul ini akan membahas berbagai jenis ternak yang bisa dipelihara dan bagaimana cara memberikan pakan, menyiapkan kandang, dan obat-obatan yang diperlukan untuk kesehatan ternak dengan menggunakan bahan-bahan lokal dan tradisional, dipadukan dengan teknologi modern yang tepat. Modul ini juga akan membahas berbagai macam cara untuk memadukan atau mengintegrasikan ternak ke dalam sistem pertanian dan penghijauan, serta bagaimana memanfaatkannya sebagai tenaga kerja.

Kambing

Kambing merupakan hewan yang sangat tangguh dan mudah beradaptasi. Namun, kambing juga dapat bersifat merusak/destruktif pada tanaman dan lahan. Kelola kambing dengan baik untuk mencegah masalah-masalah tersebut.

Disarankan jumlah kambing yang lebih sedikit akan lebih baik daripada jumlah kambing yang banyak. Namun, untuk daerah-daerah yang terlampau kering, kambing merupakan hewan yang cocok diperlihara. Biri-biri juga dapat dipelihara, dengan cara yang sama seperti memelihara kambing.

Kebutuhan Kambing : air, pakan, kandang, kesehatan, naungan, pagar atau tali.

Produk Kambing : daging, susu, pupuk, uang, tenaga (pengendali gulma dan pembersih lahan), kulit.

 
Suatu sistem kambing yang sederhana bisa meningkatkan kualitas kambing sekaligus membuat lahan Anda menjadi lebih produktif. Anda dapat memulai dengan sebuah kandang kambing dan kemudian membuat lahan untuk tanaman pakan kambing. Sebuah rencana ke depan sangatlah penting. Anda dapat mengolah suatu daerah produktif yang menghasilkan bahan pangan dan obat-obatan tradisional, untuk kambing dan juga untuk manusia.

Kandang Kambing

Lantai kandang kambing harus tetap kering, meskipun di musim hujan, sehingga mudah dibersihkan. Lantai kandang kambing ini dapat dibuat dari bilah-bilah bambu di atas permukaan tanah, atau bahan lainnya. Tambahkan rerumputan kering pada lantai tempat kambing berbaring. Gantilah rerumputan itu sebulan sekali di musim kemarau, dan seminggu sekali di musim hujan. Sapulah daerah yang tidak menjadi tempat kambing berbaring tiap hari atau dua hari sekali untuk mengurangi risiko penyakit. Ketika rerumputan dalam kandang kambing itu dibersihkan, rerumputan ini mengandung pupuk kandang/kotoran kambing yang baik digunakan sebagai bahan mulsa dan kompos. Kandang kambing dapat dibuat dengan dinding, atau tanpa dinding namun dengan pagar yang kuat di sekeliling kandang. Tanamlah beberapa jenis tanaman di sekitar kandang untuk memberikan naungan sekaligus menyediakan pakan bagi kambing.

 
 
Lantai kandang kambing harus tetap kering, meskipun di musim hujan, sehingga mudah dibersihkan. Lantai kandang kambing ini dapat dibuat dari bilah-bilah bambu di atas permukaan tanah, atau bahan lainnya. Tambahkan rerumputan kering pada lantai tempat kambing berbaring. Gantilah rerumputan itu sebulan sekali di musim kemarau, dan seminggu sekali di musim hujan. Sapulah daerah yang tidak menjadi tempat kambing berbaring tiap hari atau dua hari sekali untuk mengurangi risiko penyakit. Ketika rerumputan dalam kandang kambing itu dibersihkan, rerumputan ini mengandung pupuk kandang/kotoran kambing yang baik digunakan sebagai bahan mulsa dan kompos. Kandang kambing dapat dibuat dengan dinding, atau tanpa dinding namun dengan pagar yang kuat di sekeliling kandang. Tanamlah beberapa jenis tanaman di sekitar kandang untuk memberikan naungan sekaligus menyediakan pakan bagi kambing.

Pakan Kambing

Kambing mudah diberi makan karena kambing memakan hampir semua jenis tanaman. Sering kali, kambing dibiarkan berkeliaran sendiri untuk mencari makan, sering kali dalam jumlah yang besar, sehingga sering merusak tanaman pertanian di sekitarnya.

Untuk itu, kambing bisa di kat atau membuat pagar mengelilingi daerah penggembalaan kambing, dan disediakan pakan kambing setiap harinya. Tiap ekor, kira-kira kambing memakan 10 kg daun segar. Kambing akan memakan hampir semua dedaunan, tapi beberapa jenis dedaunan kandungan gizinya lebih banyak dibandingkan dengan jenis dedaunan lainnya. Daun lamtoro, kelor, gamal, asam jawa, dan murbei, semuanya memberikan berbagai macam gizi yang diperlukan kambing.

Sistem rotasi makanan merupakan cara yang baik untuk mengelola kambing karena sistem ini dapat membantu menyediakan pakan yang teratur bagi kambing, dan tiap areal lahan dapat menyediakan pakan secara merata, misalnya (jumlah kambing per hektar tergantung pada apa yang dimakan kambing):
  • Rumput dengan kualitas baik: 3 atau 4 ekor per hektar.
  • Sawah setelah panen: 2 ekor per hektar.
  • Rumput atau gulma kualitas buruk: 1 ekor per hektar.
Jika Anda juga menyediakan pakan tambahan di luar pakan dari ketiga lahan tersebut, Anda akan meningkatkan pertumbuhan kambing. Pakan tambahan ini dapat berupa rumput berkualitas baik atau dedaunan legum. Dengan pakan tambahan, jumlah kambing per hektarnya bisa ditambah (maksimum ada 4 ekor per hektarnya).

Sumber : 
  • Yayasan IDEP ( Indonesian Development of Education and Permaculture )
  • http://www.belikambing.com
Foto : http://aishachantik.wordpress.com/


Memilih dan Menyimpan Buah Tomat


Bagi negeri kita yang sepanjang tahun panas dengan kelembaban tinggi, buah tomat mengalami respirasi yang tinggi, sehingga tanamannya cepat berbuah dan cepat pula masak. Konsekuensinya, kita sulit memperoleh buah tomat yang besar-besar seperti tomat produksi New Zealand, Australia, atau Amerika Serikat, yang banyak kita temukan di beberapa supermarket. Karena, begitu semua kandungan buahnya telah terisi, sebelum mencapai ukuran yang maksimal, buah tomat kita segera memasuki masa pemasakan atau disebut ripening.
 
Sesuai dengan sifatnya ini, maka membeli buah yang masih hijau namun ukuran buahnya telah maksimal, merupakan pilihan yang baik untuk memperpanjang umur simpannya, karena nilai gizinya tidak berbeda.
 
Apakah ini berarti nilai gizi yang dikandung tomat kita lebih rendah dari pada tomat-tomat impor? Tentu saja tidak. Karena sesuai dengan “kodrat”nya, tanaman tomat termasuk tanaman yang selektif dalam menyerap unsur hara. Apabila kekurangan salah satu unsur hara, tanaman ini akan memperkecil buahnya, namun tidak mengurangi senyawa-senyawa gizi yang dibentuknya.
 
Respirasi buah tomat ini terus berlangsung ketika telah dipetik. Proses respirasi yang menyebabkan pembusukan ini terjadi karena perubahan-perubahan kimia dalam buah tomat dari pro-vitamin A menjadi vitamin A, pro-vitamin C-menjadi Vitamin C, dan dari karbohidrat menjadi gula, yang menghasilkan CO2, H2O, dan ethylen. Akumulasi produk-produk respirasi inilah yang menyebabkan pembusukan.
 
Namun sesuai ‘kodrat’-nya pula respirasi ini tidak dapat dihentikan, hanya bisa dihambat, yaitu dengan menyimpannya pada suhu dan kelembaban rendah. Penyimanan suhu rendah dapat dilakukan secara sederhana dalam almari es, namun di tempat ini kelembabannya tinggi mengingat barang-barang yang mudah menguap juga tersimpan di sini, sehingga proses respirasi tidak dapat dihambat dengan baik.
 
Cara lain adalah mengurangi timbunan produk-produk respirasi. Penghambatan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Buah-buah tomat impor yang kita dapati di beberapa supermarket atau galael di Semarang ini, biasanya dibungkus dengan plastik polyethilen. Cara ini cukup baik, karena cukup efektif menekan pembentukan CO2 dan H2O. Namun ‘poly-ethilen’ ini akanberreaksi dengan ‘ethylen’ yang dihasilkan buah tomat, membentuk ‘ethylen’ rantai panjang yang mudah beraksi dengan lapisan lilin kulit tomat, sehingga sampai batas tertentu kurang baik bagi kesehatan, kecuali bila kulitnya “dikupas”.
 
Bahan kemasan lain buah tomat impor adalah plastik polyethilen shrink film atau plastik mengkerut, yang terlihat lebih “bergengsi”, karena harganya lebih mahal. Tetapi sesuai dengan sifat reaksi ethylen tersebut, kemasan ini lebih kurang baik bagi kesehatan karena kontak langsung kulit buah dengan bungkus lebih banyak.

Di Australia biasanya digunakan bungkus plastik polyethylen biasa dengan buntalan kecil di dalamnya yang berisi KMNO4. Pengemasan ini lebih aman karena KMNO4 sangat efektif menyerap ethylen. Namun akibatnya, harga tomatnya jauh lebih mahal, karena harga KMNO4 dan pembungkusnya, yang harus semipermeabel ini, sangat mahal.
 
Cara paling mudah, murah, dan aman bagi tomat-tomat dalam negeri adalah adalah menyimpannya dalam kotak kayu yang higroskopis sehingga dapat menyerap H2O dan di bagian bawahnya diberi kapur tohor atau Ca(OH)2 untuk mengikat CO2, serta disimpan di tempat yang kering dan teduh sehingga penimbunan ethylen dapat ditekan. Bila buah tomat yang disimpan masih berwarna kehijau-hijauan, penyimpanan dengan cara ini dapat menahan kesegaran buah tomat sampai 2 minggu. (SM)
 

Sumber : Seri Iptek Pangan Volume 1: Teknologi, Produk, Nutrisi & Kemanan Pangan, Jurusan Teknologi Pangan - Unika Soegijapranata, Semarang
Editor : Budi Widianarko, A. Rika Pratiwi, Ch. Retnaningsih

Link Indonesia

www.indonesia.go.id

http://www.presidensby.info/
Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia

Lembaga-Lembaga Negara :
Majelis Permusyawaratan Rakyat
Dewan Perwakilan Rakyat
Dewan Perwakilan Daerah
Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Agung
Badan Pemeriksa Keuangan

Komisi-Komisi Negara :
Komisi Pemberantasan Korupsi
Komisi Pemilihan Umum
Komisi Pengawasan Persaingan Usaha
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
Komisi Perlindungan Anak Indonesia
Komisi Ombudsman

Departemen :
Departemen Dalam Negeri
Departemen Luar Negeri
Departemen Pertahanan
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia
Departemen Komunikasi dan Informatika
Departemen Keuangan
Departemen Perdagangan
Departemen Perindustrian
Departemen Perhubungan
Departemen Pekerjaan Umum
Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Departemen Pertanian
Departemen Kehutanan
Departemen Kelautan dan Perikanan
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
Departemen Kesehatan
Departemen Pendidikan Nasional
Departemen Sosial
Departemen Agama
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata

Kementerian/Lembaga Setingkat Menteri :
Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan
Kementerian Koordinator Perekonomian
Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat
Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS
Kementerian Negara Riset dan Teknologi/BPPT
Kementerian Negara Koperasi dan UKM
Kementerian Negara BUMN 
Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
Sekretariat Negara
Sekretariat Kabinet
Kejaksaan Agung

TNI dan POLRI
Markas Besar Tentara Nasional Indonesia
Markas Besar Kepolisian Negara

Bank Indonesia

Lembaga-Lembaga Pemerintah Non-Departemen :
Arsip Nasional Republik Indonesia
Badan Akuntansi Keuangan Negara
Badan Kepegawaian Negara
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
Badan Koordinasi Penanaman Modal
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
Badan Meteorologi dan Geofisika
Badan Pengawas Obat dan Makanan
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi
Badan Pengawas Tenaga Nuklir
Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Badan Pertanahan Nasional
Badan Pusat Statistik
Badan Standarisasi Nasional
Badan Tenaga Nuklir Nasional
Badan Urusan Logistik
Lembaga Administrasi Negara
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Lembaga Informasi Nasional
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Pemerintah-Pemerintah Propinsi:
Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Propinsi Sumatera Utara
Propinsi Sumatera Barat
Propinsi Riau
Propinsi Kepulauan Riau
Propinsi Bengkulu
Propinsi Sumatera Selatan
Propinsi Bangka-Belitung
Propinsi Lampung
Propinsi Banten
Propinsi DKI Jakarta
Propinsi Jawa Barat
Propinsi Jawa Tengah
Propinsi D.I. Yogyakarta
Propinsi Jawa Timur
Propinsi Kalimantan Barat
Propinsi Kalimantan Tengah
Propinsi Kalimantan Selatan
Propinsi Kalimantan Timur
Propinsi Bali
Propinsi Nusa Tenggara Barat
Propinsi Nusa Tenggara Timur
Propinsi Sulawesi Selatan
Propinsi Sulawesi Tengah
Propinsi Gorontalo
Propinsi Sulawesi Utara
Propinsi Maluku
Propinsi Maluku Utara
Provinsi Papua